Dokumentasi Nonton Bareng Persib vs Madura United di Uninus/Sumber : Cindy Marsella
Di setiap sudut kota Bandung, hari ini banyak warga yang sangat antusias untuk jadi saksi kemenangan Persib lawan Madura United. Tak hanya ramai di Gedung Sate saja, di setiap gang bahkan kampus adakan nonton bareng.
Salah satunya di Universitas Islam Nusantara, berdasarkan pantauan Madju Pos pada Jumat, 31 Mei 2024 malam. Terlihat mahasiswa berdatangan untuk menyaksikan pertandingan persib yang berlokasi di lapang Uninus.
Terdengar suara para bobotoh menyanyikan lagu kebanggannya dan teriak-teriakan ketika salah satu pemain persib akan memasukkan bola ke gawang lawan.
“Nobar ini dilaksanain oleh Senat Teknik dan juga gabungan yang dinamakan dengan backside530 ataupun supporter yang memang khusus untuk bola,” kata Presiden Mahasiswa Uninus, Muhammad Cahyadi yang di wawancarai pada Jumat (31/05/2024).
Dengan masuknya Persib ke final leg 2, ia sangat antusias dan berharap Persib merebut juara Championship Series BRI Liga 1 dan Persib masih tetap konsisten setelah berhasil juara.
“Wah tentu setelah 10 tahun penantian yang lama, hari ini mungkin menjadi salah satu euphoria juga karena hari ini bisa jadi persib jadi juara lagi setelah 2014 yang lalu,” tuturnya.
“Persib tetap konsisten dengan permainannya, jangan sampai setelah juara malah menurun seperti tahun-tahun sebelumnya, karena kita selaku bobotoh dan juga viking terutama yang ada di Uninus sangat antusias ketika permainan persib baik itu tandang maupun kandang,” pungkasnya.
Dokumentasi Kegiatan Pelatihan Administrasi Himakom/Sumber : Mahasiswa
Himpunan Mahasiswa Ilmu Komunikasi (Himakom) Universitas Islam Nusantara (Uninus) gelar pelatihan administrasi, yang diselenggarakan di Gedung Fikom lt.3 pada Kamis, 30 Mei 2024.
Ketua Pelaksana Syifa Dzikri Annisa (22) dalam kegiatan ini mengusung tema mengembangkan pengetahuan dalam administrasi untuk menjadi himakom yang berkualitas.
“Menekankan pentingnya memperluas wawasan dan keterampilan kita di bidang administrasi dan meningkatkan kualitas kinerja dan pelayanan Himakom secara keseluruhan”, kata Syifa saat di wawancarai via WhatsApp Kamis 30 Mei 2024.
Senada yang di sampaikan oleh ketua Himakom Didin Rochiedin Saputra (20) berharap dengan adanya kegiatan ini untuk meningkatkan pemahaman terkait administrasi.
“Biar para pengurus khususnya memperdayaan internal dari himakom itu sendiri memahami setidaknya administrasi di ruang lingkup di Uninus”, Pungkasnya.
Dokumentasi Kegiatan Diskusi Publik/Sumber: Mahasiswa
Mahasiswa Universitas Islam Nusantara (Uninus) membuat kegiatan Dialog Publik dengan tema “Pendidikan Untuk Siapa?” yang digagas oleh Pegiat Pendidikan Nusantara Muda, bertempat di Tepas FKIP Universitas Islam Nusantara pada Rabu (15/03/2023).
Riki Ramdhan Fadilah selaku koordinator kegiatan tersebut mengatakan alasan diadakannya kegiatan ini merupakan buah dari keresahan mahasiswa terkait bagaimana pendidikan hari ini di Indonesia khususnya yang di rasakan di Uninus.
“Jadi untuk alasannya itu karena keresahan dari mahasiswa gimana pendidikan hari ini di Indonesia khususnya yang kita rasakan di Uninus seperti kebijakan – kebijakan kampus yang tidak berpihak kepada mahasiswa,” ujarnya saat diwawancarai oleh media Madju pada Jum’at (17/03/2023).
Menurutnya, Pegiat Nusantara Muda ingin mengajak mahasiswa Uninus untuk melakukan gerakan – gerakan intelektual dengan menghidupkan kembali kampus dengan berdiskusi dan juga peka akan isu – isu pendidikan khususnya di Uninus. Kajian yang dibahasnya itu fokus terhadap isu pendidikan dan pentingnya budaya literasi.
“Pertama kita fokus terhadap isu entah isu pendidikan di bidang kampus, yang kedua menyarankan mahasiswa bahwa pentingnya budaya literasi dan diskusi. Bentuk diskusinya paralel tidak ada pemantik tetapi di pandu oleh koordinator dan dilakukan seminggu sekali setiap hari senin. Selain itu, setelah selesai hasilnya akan di bagikan di sosial media seperti instagram, ucapnya.
Deni selaku Presiden Mahasiswa Uninus menyambut baik hal ini selama menjadi niat baik mahasiswa.
“Saya menyambut baik selama itu menjadi niat baik dari mahasiswa sebagai wadah untuk mengembangkan diri dalam pengetahuan, apalagi aktif menanggapi isu-isu pendidikan yang ada di Nusantara ini. Menjadi ruang-ruang positif dalam penyampaian informasi tentang bagaimana pendidikan itu harus berjalan dengan semestinya,” pungkas Deni.
Dokumentasi Kejuaraan Pencak Silat Priangan Timur Open 2023/Sumber: Dok. Pribadi Pagar Nusa Uninus
Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) Pagar Nusa Universitas Islam Nusantara berhasil meraih satu mendali emas dan dua mendali perunggu dalam Kejuaraan Pencak Silat Priangan Timur Open 2023.
Acara tersebut digelar oleh Ikatan Pencak Silat Indonesia (IPSI) Kabupaten Garut, di Gedung Serba Guna Sarana Olahraga (SOR) RAA Adiwijaya, Kecamatan Tarogong Kidul, Kabupaten Garut, Jawa Barat pada, pada Kamis (02/3/2023).
Kejuaraan Pencak Silat Priangan Timur Open tersebut diikuti lebih dari seribu pesilat dari 7 kota se-Jawa Barat. Nizar Ahmad Abdillah, mahasiswa yang berhasil meraih mendali emas.
“Saya merasa terharu, gak nyangka dan bahagia tentunya,” ucapnya saat diwawancarai via Whatsapp pada Senin (06/03/2023).
Senada dengan yang diucapkan Nizar, Lani Sri Astuti dan Rhaisya Najwa, keduanya berhasil meraih mendali perunggu.
“Saya sangat senang. Alhamdulillah pastinya, karena bisa mengaplikasikan proses latihan langsung yang sudah dilakukan, walaupun memang hasilnya belum bisa semaksimal mungkin,” ucapnya.
Najwa pun menjelaskan bahwa ia merasa senang dan makin bersemangat karna sudah memenangkan kompetisi ini walaupun berada di peringkat ketiga.
“Saya tidak akan patah semangat dan menyerah untuk mencoba lagi karena pasti ada kegagalan dalam sebuah prosesnya,” jelasnya.
Ketua UKM Pagar Nusa Uninus, Muhammad Aripin sangat bersyukur atas prestasi dari 3 atlit yang semuanya mendapatkan juara dan salah satunya berhasil membawa pulang mendali emas.
Namun menurutnya sangat disayangkan ada beberapa faktor yang kurang maksimal.
“Ada beberapa hal yang dirasa kurang maksimal serta sangat disayangkan. Seperti halnya dana dan fasilitas yang tidak disupport oleh pihak kampus sehingga membuat saya sendiri kewalahan dari awal hingga selesai event ini,” tegasnya saat diwawancarai via Whatsapp pada Senin (06/03/2023).
Aripin berharap semoga pada event selanjutnya Pagar Nusa Uninus bisa memaksimalkan untuk meraih banyak prestasi dan medali.
“Hal ini akan berdampak baik untuk para atlet baru sebelum mengikuti Kejuaraan Pencak Silat tingkat Nasional ataupun Internasional lain selanjutnya,” tutupnya.
Dokumentasi Silaturahmi Dan Seminar Hukum Ismahi/Sumber: Dok. BEM Hukum Uninus
Ikatan Senat Mahasiswa Hukum Indonesia (Ismahi) Jawa Barat gelar Silaturahmi dan Seminar Hukum di Gedung Pasca Sarjana lantai satu Universitas Islam Nusantara (Uninus) pada Sabtu, (25/02/2023).
Muhammad Cahyadi, selaku Ketua Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) sekaligus Ketua Pelaksana menjelaskan bahwa acara tersebut diadakan guna mempersatukan Lembaga BEM dan Senat Hukum wilayah Jabar.
Muhammad Cahyadi berharap melalui acara Silaturahmi dan Seminar Hukum ini dapat mendorong mahasiswa dalam memantau jalannya institusi yang ada di pemerintahan.
“Saya berharap mahasiswa Hukum dapat menjaga dan juga memantau jalannya institusi yang ada di pemerintahan,” ujar Muhammad Cahyadi saat diwawancarai langsung oleh Madju pada Sabtu (25/02/2023).
Cristian Viery Pagliuca, mahasiswa Fakultas Hukum Universitas Pasundan sekaligus Koodinator Wilayah (Korwil) Ismahi Jawa Barat menjelaskan bahwa kegiatan tersebut diadakan karena masih banyak mahasiswa Hukum yang belum bersatu dalam menangani fenomena Hukum yang terjadi beberapa tahun kebelakang.
“Dari tahun 2019-2022 terakhir itu fenomena hukum semua terjadi di Indonesia dari Omnibuslaw, cipta kerja, RKUHP, UU Minerba dan RUU TPKS. Namun mahasiswa Hukum tidak bersatu dan tidak mengkonsolidasikan gerakan mahasiswa Hukum di Indonesia,” ucap Cristian.
Cristian menambahkan bahwa tindak lanjut dari acara tersebut akan diadakan kongres Ismahi luar biasa secara nasional di Wisma DPR RI tanggal 10-13 Maret 2023 di Jakarta. Cristian berharap dengan akan diadakannya kongres tersebut dapat menjadi wadah bagi mahasiswa Hukum dalam menyampaikan gagasan yang progresif dan inovatif.
“Saya berharap akan ada nafas baru yang muncul dengan membawa gagasan-gagasan hukum yang lebih progresif dan inovatif di negara serta mampu berkembang dan dibarengi dengan insan hukum yang juga berkembang,” Pungkasnya.
Fikri, Penyandang Disabilitas Yang Menginspirasi/Sumber: Dok. Pribadi Fikri
Keadaan seseorang ketika lahir di dunia, tidak bisa dipesan. Kemampuan fisik seperti melihat, mendengar, berbicara dan berjalan sudah dianugrahkan sejak lahir oleh Sang Maha Pencipta apapun kondisinya.
Sayangnya, stigma buruk masih saja meliputi mereka yang memiliki kemampuan fisik yang berbeda. Padahal jika ditilik lagi para penyandang disabilitas juga memiliki kemampuan yang bersaing.
Salah satunya, Universitas Islam Nusantara (Uninus) memiliki Khairil Fikri. Panggilan akrabnya,Fikri. Ia salah satu mahasiswa Prodi Pendidikan Luar Biasa (PLB) Uninus. Fikri saat ini menyandang disabilitas daksa yang membuatnya harus menggunakan kursi roda untuk beraktifitas.
Ia merantau ke Bandung untuk membuktikan bahwa penyandang disabilitas tidak seperti yang kebanyakan masyarakat pikirkan.
Aceh merupakan tempat kelahirannya, Usianya kini beranjak 25 tahun. Fikri merantau ke Bandung pada tahun 2021. Alasan Ia meninggalkan kota kelahirannya, karena Ia merasakan diskriminasi, seperti dikucilkan, diejek, di olok-olok, hingga dianggap tidak mampu melakukan pekerjaan dan tidak bisa dipekerjakan dimanapun bahkan di jenjang perguruan tinggi pun Ia ditolak karena seorang penyandang disabilitas.
Saat ini, Fikri dikenal memiliki keahlian lebih di bidang desain. Dengan keterbatasannya, Ia menekuni bidang media menjadi editor dan desainer grafis. Ia membuka jasa desain di berbagai media sosial. Hal tersebut dilakukan untuk membuktikan bahwa penyandang disabilitas juga bisa berkarya, bukan untuk dipandang sebelah mata.
Akun Instagram Fikri/Sumber: instagram.com
Bahkan pada tahun 2019 Ia mampu membuat design untuk struktur Hotel di Turki, waktu itu Ia mendapat imbalan 20 dollar.
“Awalnya saya tidak percayakan, ini apa bohong atau gimana. Cuma ya saya percaya kepada Allah kalau rezeki gak akan kemana, rupanya masuk ke email bahwa 20 dollar telah di transfer,” ucap Fikri dengan senang menceritakan pengalamannya kepada Madju pada Hari Minggu (29/01/2023).
Keterbatasan yang Ia miliki bukan halangan, Fikri mampu membuktikan dan mengembangkan bidang yang Ia senangi. Memiliki jiwa yang tidak pantang menyerah, Khairil Fikri telah mematahkan stigma masyarakat terhadap penyandang disabilitas.
Reporter: Ima Halimatus Syadiah Editor: Muhammad Aldy Fahriansyah
Dokumentasi Kegiatan Edutalk/Sumber: Fandi Muhamad
Universitas Islam Nusantara (Uninus) menandatangani kerjasama dengan Perusahaan Finansial Aggregator, PT IndoArta Perkasa Sukses (OTTO) dan PT Inclusive Finance Group (Danacita) pada Selasa, 31/01/2023.
Tindak lanjut kerjasama tersebut, di hari yang sama, digelar acara ‘Uninus Edu Talk’ di Gedung Aula lantai tiga. Acara ini memiliki tujuan untuk mengenalkan digitalisasi kampus.
Wakil Rektor III, Achmad Muhammad Ridwan Saiful Hikmat mengatakan bahwa dengan adanya Otto dan Danacita dapat menjadi kendaraan bagi Uninus menuju kampus digital.
“Alhamdulillah dengan adanya Otto dan Danacita dapat menjadi kendaraan bagi kami untuk menuju ekosistem kampus digital di Uninus ini,” ujar pak Achmad dalam pidato sambutannya (31/01/2023).
Lebih lanjut beliau menambahkan bahwa dalam proses menuju kampus digital akan dimulai dari digitalisasi keuangan.
“Uninus sudah memiliki planing dalam persiapan menuju kampus digital yang mana akan dilakukan secara bertahap dan dimulai prosesnya dari digitalisasi keuangan,” ucapnya.
Achmad Muhammad Ridwan Saiful Hikmat berharap dengan adanya kerjasaman tersebut dapat menjadikan Uninus sebagai kampus yang memimpin teknologi di masa depan.
“Kami menyambut baik acara edutalk ini dan sangat cocok dilakukan di Uninus agar ke depannya insyaallah dengan dibimbing juga dengan rektor kita akan menuju kepada ekosistem digital dan Uninus dapat memimpin teknologi dimasa depan sesuai dengan apa yang sudah dicita-citakan,” pungkasnya.
Kekerasan Seksual di ranah kampus bukan kasus baru, bahkan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemdikbud) dalam lamannya telah mendefinisikan kekerasan seksual secara rinci sebagai perbuatan merendahkan, menghina, melecehkan, menyerang tubuh, dan fungsi reproduksi seseorang, karena ketimpangan relasi kuasa atau gender.
Lebih lanjut, Kemdikbud menjelaskan kekerasan seksual di kampus dapat berakibat penderitaan psikis dan fisik, termasuk juga dapat mengganggu kesehatan reproduksi seseorang serta hilangnya kesempatan melaksanakan pendidikan dengan aman dan optimal.
Datapun berbicara, sebanyak 87,91% kekerasan seksual terjadi di ranah kampus menurut Voa Indonesia. Hingga hari ini, kekerasan seksual di kampus belum berakhir, beberapa kasus terbaru yang Madju temukan.
Pada tahun 2021, Mahasiswi jurusan Hubungan Internasional FISIP UnRi angkatan 2018, berinisial L berani berbicara. mengaku mengalami kekerasan seksual. Pelaku adalah dosen pembimbing skripsinya sendiri, yang juga Dekan Fakultas setempat.
Setahun berselang di 2022, seorang mahasiswi Universitas Gadjah Mada (UGM) mengalami kekerasan seksual yang dilakukan sesama mahasiswa ketika tengah menjalankan program Kuliah Kerja Nyata (KKN) dari kampusnya.
Masih di tahun yang sama, bulan September Kasus kekerasan seksual terjadi di Universitas Riau (Unri), dilakukan oleh Gubernur Mahasiswa Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Fakultas Ilmu Sosial dan Politik (Fisip) berinisial GA.
Komisi Nasional Perempuan (Komnas Perempuan) membeberkan antara tahun 2015-2021, Perguruan Tinggi menjadi wilayah nomor wahid dalam hal terjadinya kekerasan seksual. Mengapa kekerasan seksual ini begitu masif terjadi di ranah akademik?
Dosen Fakultas Hukum Uninus yang juga konsen dibidang Kekerasan Seksual Perempuan dan Anak, Ahmad Jamaludin mengatakan setidaknya terdapat beberapa hal yang menjadi faktor terjadinya kekerasan seksual di kampus.
Hal tersebut seperti mindset pelaku, yang berkaitan dengan banyak hal bisa saja dulunya pelaku sebagai korban, kebiasaan sering menonton video porno atau memiliki kelainan psikologis seperti fetish.
“Tapi tetap tidak ditolerir kekerasan seksual tidak boleh ada di Kampus karena ini merupakan tempat suci, tempat pendidikan yang harus dijunjung tinggi,” ucapnya saat diwawancarai oleh Madju pada Jum’at (27/01/2023).
Siti Aisyah, Mahasiswa Fakultas Agama Islam Semester 7 mengatakan, di Uninus kemungkinan ada kekerasan seksual dan bahkan bisa saja banyak, namun kebanyakan konteksnya masih pelecehan seksual, melihat kampus adalah salah satu ruang akademis yang kadang bagi oknum pemangku kebijakan dan kekuasaan menjadi senjata untuk dapat digunakan ketika melakukan pelecehan.
“Sejauh ini belum mendengar bahwa di Uninus akan membuat Satgas PPKS (Satuan Tugas Pencegahan dan Penanganan Kekerasan Seksual), mungkin masih belum ada orang yang mengampu dibidang ini,” ujarnya saat diwawancarai oleh Madju pada Senin (23/01/2023).
Ia juga menambahkan bahwa Uninus masih belum tanggap mengenai perihal pencegahan, sehingga tidak menutup kemungkinan kasus kekerasan seksual masih banyak terjadi. Hal ini menandakan bahwa Uninus sendiri belum mampu menanggulanginya.
“Adapun edukasi pencegahan kekerasan seksual biasanya hanya dilakukan atas inisiatif ormawa-ormawa yang fokus dengan pemberdayaan perempuan saja,” tutupnya.
Ilustrasi Proses Belajar Di Kelas/Sumber: Dok. Pribadi Muhammad Aldy
Kuliahku pagi ini seperti biasa, kering dan hambar seperti keripik singkong yang digoreng terlalu lama. Lagi dan lagi ada salah satu dosen yang sistem belajarnya seakan membungkam mahasiswanya sendiri.
Ketika Aku dan kawan kelasku mencoba mempertanyakan suatu hal dalam sistem kuliah yang terkesan memberatkan mahasiswa, ‘beliau’ malah menceramahi kami bukannya memberi solusi.
Memang ketika Menteri Pendidikan Nadiem Makarim menggembor-gemborkan Kuliah Merdeka, masih ada saja oknum dosen yang ingin dianggap “Dewa” oleh mahasiswanya.
Fenomena dosen yang mengkultuskan dirinya sebagai Dewa bukanlah hal baru. Sudah sejak lama hal ini mengakar, khususnya di Indonesia. Sebagai contoh saja ketika didalam kelas, dosen selalu bertingkah sebagai penguasa yang memimpin terus menerus jalannya kelas.
Berbicara dan berceramah sampai SKS habis tanpa melibatkan mahasiswa. Hal ini juga menjadi ciri bahwa dosen dewasa ini masih menganggap mahasiswa sebagai “objek”. Ketika mahasiswa dianggap sebagai objek, akan menjadi fatal akibatnya, pola pikir kritis dan terbuka sama sekali tidak akan terbentuk, dogmatis. Soe Hok Gie pernah berkata, “Dosen bukanlah Dewa!”
Kukira fenomena dosen yang mengkultuskan dirinya sebagai dewa juga masih terjadi di Universitas Islam Nusantara (Uninus). Pengalamanku sudah diceritakan tadi di awal tulisan, perkuliahan terkesan seperti penjara pikiran karena gagasan dan ide mahasiswa terkadang suka dibantah mentah-mentah. Padahal Paulo Ferreire menjelaskan di dalam bukunya “Pendidikan Kaum Tertindas” bahwasanya esensi pendidikan adalah ketika manusia dimanusiakan, salah satunya ketika sedang proses belajar di dalam kelas.
Ketika mahasiswa masih dianggap objek, pendidikan di suatu kampus sama sekali tidak akan maju. Karena ketika dianggap objek, maka mahasiswa akan menjadi insan yang begitu saja menerima ilmu yang ia dapat. Kalau hal itu terjadi, maka pengembangan ilmu pengetahuan akan stagnan, mengcopy-paste saja apa yang sudah ada, statis.
Sedangkan seharusnya sarana pendidikan di kampus menjadi langkah awal untuk mengembangkan ilmu pengetahuan menjadi lebih dinamis sesuai dengan keadaan zaman. Sudah seharusnya juga dosen menganggap mahasiswanya sebagai subjek. Karena ketika hal tersebut dapat terwujud, maka suasana kelas akan menjadi lebih hidup akan diskusi gagasan segar dan kritis untuk memecahkan persoalan sosial yang terjadi, maka niscaya perkembangan ilmu pengetahuan akan secara masif terjadi baik itu di Uninus atau bahkan di Indonesia.
Namun harus kuakui tidak semua dosen seperti itu. Di Uninus masih banyak dosen yang sudah memiliki pola pikir yang modern, sudah banyak yang sudah menganggap mahasiswanya sebagai subjek.
Bahkan di Fakultasku, sekat antara dosen dan mahasiswa bisa dibilang sudah hampir musnah, diskursus sering dilakukan bersama dengan santai dan tidak kaku.
Hal ini juga disampaikan oleh Asri Sri Rahayu mahasiswa Uninus semester 8. Ia sampai saat ini belum merasa menemukan dosen yang merasa paling benar atau mendewakan diri sendiri ketika belajar, tetapi yang ia temukan paling dosen yang bener-bener hanya ceramah saja pas ngajar, bahkan terkadang sama sekali tidak melibatkan mahasiswa untuk berdiskusi di kelas, positif thinking mungkin jadwal beliau sedang padat, katanya.
“Kalo dosen yang ngajar pake sistem kayak gitu ya paling suka kesel, toh semua yang kita kerjakan akan di pertanggungjawabkan. apalagi menjadi dosen adalah tugas mulia, jadi sayang aja kalo tugasnya tidak dijalankan dengan baik,” jelas Asri saat ku tanya melalui Whatsapp yang dia ngebalesnya lama banget gatau kenapa.
Asri berharap semoga semua dosen mau terus belajar supaya cara ngajarnya bisa ngikutin zaman, dan ga ketinggalan. Kalo untuk Uninus sih semoga komunikasi antar pihak Rektorat, Fakultas, dan mahasiswanya diperbaiki. Karena terkadang ada beberapa hal atau kebijakan yang membingungkan mahasiswa karena narasi yang diberikan pihak rektorat dan fakultas berbeda.
Gak jauh beda sama apa yang disampaikan Asri, Presiden Mahasiswa Uninus, Deni, juga sampai saat ini belum menemukan dosen yang mendewakan dirinya sendiri ketika di kelas. Kalau misalnya masih ada dosen yang seperti itu, harusnya sih mulai sadar diri, menyadari bahwa pada masa sekarang ini, mahasiswa mempunyai pemikiran yang berbeda-beda. Apalagi berbicara mengenai kurikulum semakin berkembang, yang menunjukkan bahwa seluruh pembelajaran tidak hanya dilibatkan hanya oleh dosen saja (berbasis atas metode ceramah) artinya mahasiswa punya argumentasi tersendiri terkait apa yang diajarkan, katanya.
“Jika ada dosen yang masih menggunakan sistem seperti itu, mungkin mereka masih menggunakan sistem yang kuno (ketinggalan zaman) dan dibawa ke zaman sekarang. Apalagi mungkin dosen yang masih mempraktekkan hal seperti itu kebanyakan dosen yang sudah berumur (dosen senior), dan mungkin mereka masih nyaman dengan sistem yang mereka pakai tersebut (metode ceramah). Sehingga ketika ada mahasiswa yang menyanggah, dianggap akan merubah ajaran dari yang dosen sampaikan,” jelas Pres saat aku temui sehabis makan siang masakan si Ibu di ruangan Dewan Mahasiswa.
Daripada menganggap dosen sebagai dewa yang merasa dirinya paling benar, Presma lebih mengkritisi sistem yang digunakan di Uninus.
Selama Ia berkuliah selama 8 semester, ketika ditanya sudah sejauh mana Ia memahami materi perkuliahan, hanya sekita 40-50% saja yang sampai kepada mahasiswa, baik itu dalam hal teori dan praktik. Karena terkadang mahasiswa hanya menerima saja materi yang dosen sampaikan.
Hal tersebut terjadi karena tidak ada praktik yang nyata dari teori yang sudah diberikan, mahasiswa memang sudah seharusnya mandiri untuk mempraktekkan apa yang ia tangkap, tetapi sudah seharusnya pihak dosen atau bahkan prodi dapat mengarahkan dan memberi stimulus lebih agar mahasiswa termotivasi untuk melakukan praktik tersebut, katanya.
“Perihal kualitas dosen di Uninus khususnya di prodi Saya, memang bisa dibilang kurang, baik dari kuantitas maupun kualitas. Dari segi kuantitas, ada beberapa dosen yang mengajar lebih dari satu mata kuliah di satu semester. Dari segi kualitas, banyak dosen yang tidak linear dengan mata kuliah yang diajarkannya, misalnya dari mata kuliah linguistik tidak ada dosen yang benar benar original lulusan linguistik. Harusnya lebih banyak dosen yang sesuai dengan mata kuliah yang diampunya agar materi yang akan disampaikan dapat tersampaikan dengan baik,” paparnya saat mendekati akhir obrolan karena Aku harus kembali mengerjakan revisi tugas akhir di perpustakaan.
Dapat ditarik benang merah, secara garis besar memang Aku dan mahasiswa Uninus lainnya sudah tidak menganggap dosen sebagai dewa lagi, ya walaupun memang masih ada beberapa diantaranya yang masih seperti itu.
Ternyata ada hal lain yang menjadi epicentrum dari perkembangan kualitas pendidikan khususnya di Uninus, yaitu kualitas dosen itu sendiri. Sudah sejauh mana kampus Uninus dapat menjaga kualitas dosennya dengan sistem yang digunakan saat ini. Kalau dilihat dari presentase yang disampaikan Pres, ku kira sudah mewakili dari seberapa baik kualitas dosen yang ada. Kukira memang sudah seharusnya ada evaluasi besar tentang apa yang terjadi, banyak yang harus diperbaiki, mulai dari pola pikir dosen dan sistem belajarnya, sistem dari birokrasi kampus terkait kurikulum yang dipakai, dan pola pikir mahasiswanya sendiri yang harus segera di upgrade agar wacana Uninus “Unggul” dapat segera terwujud.
Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) Paduan Suara Mahasiswa (PSM) Shawtyna Universitas Islam Nusantara (Uninus) telah menetapkan Ardian Ramdhani sebagai Nahkoda baru priode 2023/2024.
Sesaat setelah terpilih, Ardian sudah memiliki rencana ke depan untuk turut berkontribusi pada kampus lewat UKM yang Ia pimpin.
“Saya ingin membuat PSM Shawtyna ini menjadi UKM yang aktif dan berprestasi, serta bisa membawa nama Uninus menjadi lebih dikenal oleh masyarakat banyak, karena melihat keadaan kampus sekarang yang alhamdulillah banyaknya prestasi yang didapat dan membuat Uninus dikenal oleh masyarakat,” jelasnya saat diwawancara Madju via Whatsapp Minggu, (22/01/2023).
Ardian pun menambahkan bahwa lewat UKM yang Ia pimpin, Ia termotivasi untuk ikut andil membuat nama Uninus menjadi harum dan menjadikan kampus yang unggul.
Pada pengurusannya tahun ini, Ardian telah mempersiapkan berkaitan dengan pengasahan skill individu setiap anggota, tak hanya berfokus pada seni paduan suara tetapi akan diadakan pelatihan musik.
“Karena setiap individu memiliki kemampuan yang berbeda-beda, dan kita tidak hanya berfokus di seni paduan suara tetapi ada musiknya juga,” tuturnya.
Meski begitu, ada pelbagai tantangan baru yang harus Ardian emban untuk melanjutkan kepengurusan selanjutnya. Khansa Fitria, Nahkoda terdahulu PSM Shawtyna Uninus, menjelaskan beberapa diantaranya seperti regenerasi anggota dan program kerja.
“Tantangan untuk kepengurusan selanjutnya adalah bagaimana cara mempertahankan dan menambah anggota dan menambah program kerja. Karena sebetulnya diangkatan saya sama sekali tidak ada program kerja tertulis, kebanyakan kami hanya melaksanakan rencana yang sudah ada saja,” jelas Khansa saat diwawancara madju via whatsapp Minggu,(22/01/2023).
Ia melanjutkan, rencana yang sudah ada itu seperti, mengisi paduan suara saat wisuda dan acara seminar yang diadakan kampus Uninus maupun undangan kampus lain. Sementara untuk program kerja yang terealisasikan adalah latihan 1 minggu 3 kali, yakni di hari Selasa dan Jumat untuk latihan vokal dan Minggu diisi dengan latihan olahraga.
Khansa berharap semoga UKM PSM Shawtyna bisa lebih maju lagi, lebih sukses dan lebih kompak.
“Harapan terakhir saya semoga pihak kampus baik yayasan atau rektorat, selalu mendukung kegiatan UKM manapun baik UKM PSM Shawtyna ataupun yang lainnya, karna disini tempat kami sama-sama mengembangkan minat bakat kami, dan kami ingin menambah prestasi rumah kami menjadi lebih baik lagi,” tutupnya.